Archive for the ‘Buku Belum Dibaca’ Category

Nàgara Krtàgama (Prof. Dr. Drs. I Ketut Riana, S.U.)

Saturday, October 10th, 2009

9789797094331

Kakawin Dèsa Warnnana uthawi Nàgara Krtàgama adalah sebuah karya sejarah monumental yang mendeskripsikan masa keemasan Kerajaan Majapahit, yakni pada masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk yang bergelar Raja Rajasa Nagara. Saat Hayam Wuruk yang berkuasa pada belahan kedua abad ke-14, dianggap sebagai titisan Bhatara Hyang Giri Natha (Bhatara Siwa) yang bertugas menenteramkan dan menyejahterakan rakyat Nusantara, bahkan negara-negara tetangga yang menyatakan bergabung dengan Majapahit.

Karya sastra sejarah yang menggambarkan kemegahan Kerajaan Majapahit ini amat penting dalam penyusunan sejarah Indonesia. Antara lain karena Majapahit merupakan salah satu kerajaan Nusantara yang terbesar yang sejak 700 tahun silam sudah dikenal hingga ke Pulau Madagaskar di Samudera Hindia, di lepas pantai timur Afrika. Pustaka ini menyajikan silsilah Mpu Tantular, kisah kelahiran dan silsilah Raja Hayam Wuruk dan gambaran Mpu Prapanca tentang Istana Majapahit yang dikatakan amat megah, yang disebutnya seperti matahari bersinar di siang hari serta bagai bulan bersinar di malam hari.

Buku ini juga mengandung deskripsi tentang luasnya wilayah jajahan Kerajaan Majapahit, peristiwa wafatnya Patih Gajah Mada, serta konsep dan filsafat Pancasila buah pemikiran Mpu Prapanca yang kini menjadi dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kecuali menyajikan teks dalam bahasa Jawa Kuna yang dipengaruhi bahasa Sansekerta, sesuai dengan naskah aslinya, buku ini juga menyajikan teks berhuruf Bali, sesuai dengan yang tertulis dalam lontar.

Dunia Tanpa Manusia (Alan Weisman)

Saturday, October 10th, 2009

The World Without Us

Sebuah tur memikat keliling Bumi setelah punahnya manusia.

The World Without Us menawarkan pendekatan yang sangat baru terhadap pertanyaan bagaimana pengaruh manusia terhadap planet ini; Alan Weisman meminta kita untuk membayangkan Bumi tanpa manusia.

Weisman menjelaskan bagaimana berbagai infrastruktur raksasa yang kita bangun akan runtuh dan akhirnya menghilang tanpa kehadiran manusia; barang keseharian mana saja yang akan diabadikan dalam bentuk fosil; bagaimana pipa dan kabel tembaga akan hancur menjadi tumpukan batu-batuan kemerahan; kenapa beberapa bangunan yang dibuat pada awal peradaban manusia kemungkinan besar akan menjadi bangunan terakhir yang tersisa; dan bagaimana plastik, patung perunggu, gelombang radio, dan beberapa molekul yang diciptakan manusia akan menjadi hadiah terakhir bagi alam ini.

The World Without Us mengungkapkan bahwa dalam beberapa hari setelah hilangnya manusia, banjir di kereta api bawah tanah di New York akan mulai mengikis fondasi kota itu dan bagaimana, dan saat kota-kota di seluruh dunia runtuh, aspal yang merajalela di mana-mana akan tersingkir oleh hutan rimba yang menyeruak kembali ke permukaan bumi. Saat menunjukkan kerusakan, yang diciptakan manusia, mana saja yang tidak mudah hilang dan sejumlah contoh seni dan kebudayaan manusia yang tertinggi yang akan bertahan paling lama, narasi Weisman akhirnya akan mengarahkan penyelesaian yang radikal tapi persuasif yang tidak bergantung atas lenyapnya umat manusia. Ini adalah contoh narasi nonfiksi pada tingkatan tertinggi, dan dengan menunjukkan konsep yang sangat menggoda dengan sentuhan yang menggairahkan, ia juga dengan cermat melihat akibat yang ditimbulkan manusia terhadap planet ini dalam cara yang baru.

Menalar Tuhan (Franz Magnis-suseno)

Saturday, October 3rd, 2009

Menalar Tuhan

Penulis: Franz Magnis-Suseno SJ
ISBN: 979-21-1043-7
Tanggal Terbit: 13-01-2006
Harga: Rp 42.000
Ukuran: 15,5 x 22,5 cm
Halaman: 245
Penerbit: Kanisius

Sinopsis:
Menalar Tuhan, itulah yang sejak permulaannya menjadi obsesi filsafat. Menggapai Tuhan melalui pikiran menjadi hasrat tertinggi filsafat sampai 200 tahun lalu. Di permulaan abad 21, pertanyaan tentang Tuhan masih tetap berada di pusat pemikiran para filsuf. Buku ini ditulis bagi mereka yang percaya kepada Tuhan dan juga bagi mereka yang tidak lagi percaya kepada Tuhan. Isinya bukan mengenai agama, melainkan mengenai Tuhan. Buku ini tidak mau “membuktikan” adanya Tuhan, melainkan menunjukkan bahwa di abad 21 pun manusia tetap dapat percaya kepada Tuhan tanpa harus menyangkal kejujuran intelektualnya.